Saya teringat pengalaman saya ketika kuliah di jurusan teknik sipil di Universitas Bung Hatta – Padang.
Sering ada guyonan, ketika sebuah bangunan telah berdiri, ada dua pernyataan umum yang sering terlontar :
1. Kalau bangunannya bagus, orang relatif berpendapat : “siapa nih arsiteknya? bangunannya bagus, arsitekturnya keren.”
2. Kalau bangunannya jelek, roboh, retak-retak : “Siapa kontraktornya? pake CV apa?”
sering kali pendapat seperti ini menjadi bahan guyonan, karna tidak jarang pernyataan seperti ini di lotarkan oleh masyarakat awam.
Analogi di atas, sering juga terjadi di dunia rekaman.
Ketika sebuah album sukses besar, yang jelas-jelas di ingat oleh masyarakat awam adalah para pencipta lagu, penyanyi dan produsernya. musik, audio ataupun video di anggap hanya sebuah kemasan yang menjadi faktor kesekian untuk di acungi jempol
Tapi ketika sebuah album kurang beruntung di pasaran, penataan musik menjadi salah satu sasaran utama untuk di salahkan
menyusul penilaian atas audio video, artis dan lagu-lagunya.
Saya beberapa kali merasakan hal ini, ataupun mendengar hal seperti ini yang dirasakan beberapa rekan-rekan di studio lain.
Mungkin tidak ada salahnya jika sedikit kita telusuri ke belakang, proses penggarapan sebuah album sampai di edarkan.
Secara garis besar, penggarapan sebuah album dalam sebuah studio rental/penyedia jasa adalah seperti berikut ini :
· Produser meng-order jadwal dan jasa pemakaian studio yang meliputi Penataan Musik, Audio & Video.
· Daftar lagu diserahkan berikut nama artis yang akan membawakan lagu tersebut. Perlu diketahui, dalam sistem kerja sebuah studio rental seperti Solfegio Studio ini, Produser mempunyai hak penuh atas penentuan lagu dan artis yang akan digarap.
· Ketika proses rekaman mulai di lakukan, terlebih pada saat perekaman vokal/take vocal, di samping operator ataupun music/vocal director, produser terkadang mempunyai peran dalam mengarahkan vokal artis yang sedang di rekam.
· Kesulitan pertama akan di temui oleh pihak studio, terlebih jika mendapat materi lagu yang di anggap kurang layak untuk di garap, menyusul kesulitan berikutnya apabila penyanyi yang bersangkutan masih pemula dalam teknik vokal ataupun kurang menguasai lagu yang akan di garap.Seringkali, karena penyanyi yang bersangkutan tidak menguasai lagu yang akan di bawakan, jadwal studio yang idealnya cuma untuk proses rekaman, berubah menjadi jadwal latihan pengenalan lagu. Seharusnya yang terjadi adalah pada saat di studio, si penyanyi telah menguasai lagu yang akan di rekam, sehingga pada saat proses rekaman, music/vocal director punya keleluasaan dalam mengarahkan dan merubah beberapa bagian lagu menjadi lebih baik.
· Setelah vokal di rekam dengan segala kelebihan dan kekurangannya, data vokal tersebut di serahkan kepada penata musik/music director untuk dibuatkan musiknya
· Pada saat penggarapan musik, tidak jarang penata musik mengeluh setelah mendengar karakter vokal, tehnik vokal si artis, dan materi lagu yang akan digarap musiknya. Karena ada kerancuan, bahwa pada tangan penata musik inilah, diharapkan bahwa semua lagu tersebut bisa ataupun harus bisa di “sulap” menjadi bagus:-) semua beban album ini lebih fokus diserahkan kepada penata musik. Saya selaku penata musik, cukup sering bahkan selalu berhadapan dengan fenomena seperti ini, padahal jika harapan itu bersifat pertanyaan, saya pribadi pasti akan menjawab :”bisa ya, bisa tidak”. Karena musik yang akan dibuat akan selalu berdasar dan tidak bisa lepas dari lagu yang akan di tata musiknya. Kalau lagunya kurang bagus, sesekali cukup beruntung bisa di balut dengan musik yang bagus, tapi secara umum, lagu yang kurang bagus tidak memliliki peluang besar untuk di buatkan musik yang bagus.
· Ketika musik telah selesai lalu di presentasikan/diperdengarkan kepada produser/pencipta lagu. pada saat presentasi ini, terkadang ada produser/pencipta yang menerima musik tersebut 100% tanpa perubahan lagi, tapi ada juga produser/pencipta yang minta di ubah musiknya, bahkan tidak jarang permintaan perubahan yang diminta produser/pencipta lagu tersebut dirasakan tidak mungkin bisa dipenuhi oleh penata musk, mengingat keadaan dan konstruksi lagu itu sendiri. Disinilah permasalahan sering terjadi (baca artikel Produser/Pencipta VS Penata Musik).
· Setelah Audio selesai, memasuki tahap Video yaitu penggarapan video clip.
· Khusus untuk lagu daerah Kerinci, ada ‘tradisi’ produser/pencipta lagu daerah Kerinci, bahwa video clip lagu daerah Kerinci harus menampilkan panorama alam Kerinci. Saya tidak tau kenapa persepsi seperti ini tetap bertahan sampai saat ini, walaupun dari pengamatan saya, sebagian besar konsumen tidak pernah mempermasalahkan hal ini.Ini telah saya buktikan dalam penggarapan beberapa album yang hanya menampilkan sedikit panorama Kerinci, dan ketika saya tanyakan kepada konsumen dari berbagai kalangaan, justru keadaan berbalik, konsumen banyak yang berpendapat, jenuh melihat panorama Kerinci di dalam album-album lagu daerah Kerinci, mengingat dalam beberapa tahun terakhir, nyaris seluruh album lagu daerah Kerinci menampilkan visual panorama alam Kerinci di dalam video clip-nya.
· Seperti yang saya jelaskan di atas, tetap saja hampir seluruh produser lagu daerah Kerinci yang saya temui, terlebih yang telah bekerja sama dengan Solfegio Studio, punya keinginan untuk mengambil lokasi pembuatan video clip di panorama-panorama alam Kerinci. Walaupun telah saya paparkan beberapa pendapat seperti point sebelumnya, tetap saja produser mempertahankan keinginannya. Sekali lagi, dalam studio rental seperti Solfegio Studio, produser punya hak penuh. Dan biasanya, kami akan memenuhi keinginan produser, dengan tetap mengingat faktor-faktor lainnya (baca artikel Video Clip Lagu Daerah Kerinci).
· Setelah Audio Video selesai digarap dan diakhiri dengan pembuatan final master, master tersebut di serahkan kepada Produser untuk kelanjutan produksi manufacturing/replika.
· Setelah replika selesai, dan telah berbentuk paket lengkap sebuah album (kaset/cd, cover dan box) album pun di pasarkan
Setelah beredar di pasaran, disinilah bermunculan berbagai argumen, pendapat, kritik, saran terhadap album tersebut. Kalau sukses besar, tidak sedikit yang menyatakan salut kepada produser, pencipta, ataupun artist, menyusul kepada studio (penata musik, audio & video). tapi kalau kurang beruntung di pasaran, tidak jarang, studio (penata musik, audio & video) menjadi sasaran utama untuk di kritik
Secara jujur, inilah kelemahan sebuah studio rental seperti Solfegio Studio, dimana produser memegang peranan penting dan otoritas dalam album yang di produseri. Cukup bijaksana kiranya, apabila produser yang notabene sebagai sumber dana album, menyerahkan sepenuhnya proses audio video kepada pihak studio yang di rental atau di “beli” jasanya.
Jadi korelasi dan kerjasama antara arsitek dan kontraktor berjalan baik. Produser selaku ‘arsitek’ yang merancang sebuah rancang bangunan, sedangkan studio (penata musik,audio & video) selaku ‘kontraktor’ yang akan mewujudkan rancangan dari sang arsitek dengan melakukan perubahan dan penyesuaian seperlunya agar rancangan bangunan tersebut dapat terwujud sebaik mungkin.
Jika kerjasama arsitek dan kontraktor album lagu daerah ini berjalan dengan baik, maka tidak akan ada pihak yang dirugikan. arsitek di untungkan dan kontraktor tidak dirugikan:-)
Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua.
TERIMA KASIH
ANTONI PASARIBU
antonipasaribu@gmail.com






RSS - Posts