Cukup sering saya mendapat pertanyaan senada dengan ini :
“Kenapa Album dari studio X di ibukota propinsi X hasil audionya bagus?”
“Kenapa vcd-vcd karaoke nasional original gambarnya bagus?”
Dan masih banyak pertanyaan lain yang mempertanyakan tentang kualitas seperti ini. Kalau di pertanyakan hal semacam ini, sedikit bercanda saya akan bertanya balik :”disana berapa budgetnya?”
Kenapa saya bertanya seperti itu?
Mungkin untuk kasus dunia rekaman seperti ini, prinsip ekonomi untuk mendapatkan barang sebagus-bagusnya dengan harga serendah-rendahnya, kurang berlaku J Tetapi sebaliknya, mau kualitas bagus, sediakan dana lebih besar.
Kenapa demikian?
Secara garis besar, kualitas yang baik dalam dunia audio video, selain dari faktor SDM, faktor peralatan menjadi faktor utama penentu kualitas sebuah produk. Semakin bagus hasil yang ingin di dapat, maka semakin detail peralatan yang dibutuhkan.
Misal untuk menghasilkan repro vokal yang bagus : microphone yang digunakan cukup mahal, beda karakter vokal akan butuh mic yang berbeda, selain mic akan dibutuhkan prosecor, mixer, converter (untuk rekaman digital) dan lain-lain, yang harga tiap alatnya berkisar 2,5 juta sampai puluhan juta rupiah. Itu hanya untuk vokal saja J untuk musik, satu unit keyboard yang telah memiliki fasilitas seq/music workstation berkisar antara 10jt sampai 40jutaan, itu hanya untuk keyboardnya saja J sedangkan untuk membuat musik, idealnya selain satu perangkat keyboard akan dibutuhkan perangkat penunjang lainnya. Sedangkan untuk proses mixing dan mastering, butuh peralatan yang banyak dan harga tiap alatnya sangat mahal. Itu hanya untuk audio saja.
Sedangkan untuk video, kamera yang baik harganya berkisar 30juta sampai ratusan juta rupiah, itu untuk satu unit kamera video (camcorder), perangkat lighting (tata cahaya) juga tidak murah. Begitu juga dengan perangkat video editing yang butuh komputer berspesifikasi khusus dan peralatan penunjang lainnya, sehingga harga investasi untuk video juga cukup besar.
Jadi, berapa ideal harga jasa yang harus dibayar atas peralatan-peralatan tersebut ditambah dengan biaya akustik ruangan, tenaga ahli, kru, operasional dll? Harganya akan cukup mahal dan di setiap studio akan bervariasi.
Kenapa studio di daerah khususnya kabupaten Kerinci tidak bisa mengejar kualitas seperti studio besar yang ada di Jakarta?
Alasan utamanya ada di peralatan yang harganya cukup mahal tersebut. Cukup mahal bukan berarti pengusaha studio di daerah tidak bisa berinvestasi memiliki peralatan seperti studio berskala nasional atau internasional sekalipun. Tetapi investasi tersebut ditinjau kembali dengan kemampuan pengguna jasa daerah setempat.
Secara nominal jika dilakukan hitungan kasar, rata-rata penjualan album di daerah Kerinci berkisar antara 3000 copy vcd, dijual dengan harga Rp.15.000,- total penjualan = Rp.45jt,- jika harga replika @Rp.5000,- maka harga modal replika = Rp.15jt keuntungan yang didapat dari penjualan 3000vcd adalah Rp.30jt. lalu dikurangi dengan pembelian lagu, honor artist, transportasi foto cover, penata rias, kostum dan pengeluaran tak terduga lainnya, berapa keuntungan yang tersisa?( Maaf, untuk privacy berbagai pihak, saya tidak akan menuliskan detail keuntungan yang didapat sang produser.)
Lalu berapa harga yang wajar diberikan kepada pengguna jasa atas penyewaan studio?
Untuk harga yang dianggap layak di kabupaten Kerinci, menurut kami Solfegio Studio, berkisar antara Rp.6jt sampai Rp.10jt,-
Bagaimana mengatasi hal ini, mengingat investasi peralatan yang ratusan juta rupiah dan harus selalu mengikuti perkembangan zaman dan teknologi?
Salah satunya, sama dengan usaha lain, studio harus memasang target minimal produksi dalam jangka waktu tertentu. Dan untuk menyesuaikan dengan budget yang di dapat, maka peralatan yang disediakan adalah peralatan dengan harga level-level tertentu untuk menyeimbangkan dengan harga yang akan di tawarkan kepada pengguna jasa.
Untuk hasil akhir, secara jujur, hasilnya tidak akan sebagus album lagu nasional yang berbudget sangat tinggi. Tetapi masih dalam kategori LAYAK untuk dipasarkan secara komersil.
Dengan hasil produksi yang ditawarkan tersebut, khusus daerah Kerinci, tidak jarang penjualan vcd per album mencapai angka yang cukup fantastis, berkisar 5000 – 15.000 copy bahkan lebih. Tentunya faktor kualitas materi lagu dan penyanyi juga harus menjadi pertimbangan awal. Jumlah angka penjualan yang fantastis ini yang selalu memompa semangat seniman, budayawan dan pencipta lagu Kerinci untuk selalu berkarya. Dilihat dari segi geografis, kultur, ragam bahasa daerah dan jumlah penduduk kabupaten Kerinci, mungkin angka penjualan tersebut sedikit tidak masuk akal. Tetapi dari pengamatan, kami di Solfegio Studio telah mengetahui beberapa faktor yang menyebabkan hal ini, dan jika anda ingin tau, silahkan berkunjung ke Solfegio Studio untuk berdiskusi dan sharing bersama kamiJ
Hal ini perlu saya tuliskan, mengingat sangat sering saya mendapat pertanyaan dan komplain seperti ini. Pengguna jasa kurang mengetahui dan memiliki wawasan tentang ini, sehingga pihak studio rental di daerah acap kali merasa disalahkan karena hasil produksi tidak seperti album yang di produksi di studio besar berskala nasional lainnya. Mudah-mudahan dengan artikel ini, dapat memberi tambahan wawasan bagi kita semua, khususnya bagi pihak yang ingin menggunakan jasa studio rental seperti Solfegio Studio.
Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua.
TERIMA KASIH
ANTONI PASARIBU
antonipasaribu@gmail.com





RSS - Posts