Tulisan ini mengenai pengalaman saya mengerjakan 2 album proyek KLASIK KERINCI MODERN – H.AMRIN, Dpt PUNYO GAWE
A. AWAL PERTEMUAN
Pada akhir tahun 2006 saya berkenalan dengan bpk H.Amrin, Dpt saya bertemu secara tidak sengaja di RSU Mayjen H.A.Thalib Kerinci. Yang secara kebetulan adalah kantor tempat beliau bekerja pada saat itu.
Pada pertemuan tersebut, hanya terjadi percakapan pendek karena pada saat itu saya juga dalam order untuk jadi pianist pengiring paduan suara lagu mars RSU Mayjen H.A Thalib, yang kebetulan saya juga yang mengaransemen lagu tersebut. Dalam percakapan pendek tersebut, beliau menyampaikan keinginan beliau untuk rekaman.
Beberapa hari setelah pertemuan tersebut kami sering bertemu di Solfegio Studio untuk sekedar berdiskusi atau berbagi pengalaman bermusik. Dari beberapa kali percakapan, beliau menyampaikan ingin menggarap album “Klasik kerinci Modern”, saya belum mengerti bentuk “Klasik Kerinci Modern”, terlebih ketika beliau katakan bahwa album tersebut telah tertunda kurang lebih selama 4 tahun. Selama 4 tahun tersebut, beliau telah menawarkan kepada beberapa studio dan penata musik di dalam maupun di luar kabupaten Kerinci, selama 4 tahun itu pula berbagai penolakan dihadapi beliau, baik karena materi lagu yang dianggap kurang komersil ataupun ketidakmampuan penata musik. Dari cerita pengalaman beliau tersebut, saya tertarik mau mencoba untuk sekedar mendengar saja sample lagu beliau.
Sample yang beliau berikan, kurang lebih hampir sama dengan kaset lagu gitar tunggal daerah Palembang, hanya ada satu gitar (folk guitar) yang bermain secara unisono dengan vokal. Dari sampel tersebut saya sudah memprediksi berbagai kendala apabila ini di garap dalam bentuk Klasik Modern. Kendala yang saya maksud adalah :
- Musik pengiring yang direncanakan untuk menandakan bentuk modern dari album tersebut, memiliki rentang frekuensi yang lebih lebar dibanding vokal dan folk guitar.
- Gitar adalah alat musik pholyphonic/bukan monophonic seperti suling, yang secara harmoni pasti dalam beberapa titik, frekuensi dan harmoni akan selalu bertabrakan dengan musik pengiring.
- Gitar bermain secara unisono mengiringi vokalis sepanjang lagu, dan kendala terbesar yang saya maksud yaitu, gitar dominan bermain pada senar 1, 2 dan 3, senar lainnya hanya sebagai pelengkap dan sesekali dibunyikan, sedangkan frekuensi bunyi senar 1, 2 dan 3 lebih sempit dibanding vokal. Secara kasar, suara gitar pada senar 1,2 dan 3 akan lebih sering ditutupi oleh vokal.
- Lagu – lagu tersebut adalah lagu/dalam bahasa Kerinci disebut Tale lama atau lagu rakyat Kerinci, yang bersifat untempo/tidak pada tempo atau metronome yang konstan.
- Dari sample yang saya dengar, saya prediksi bahwa stem gitar yang digunakan bukan stem gitar konvensional pada umumnya (dari senar 6 E – A – D – G – B – E), terdengar dari senar 5 dan 6 yang selalu dimainkan secara loss senar/di lepas tanpa menekan senar tersebut di fretboard. Ini saya anggap masalah karena nada dasar lagu pasti akan terbatas mengingat pola permainan yang telah di ikat steman khusus tersebut.
Dan ada beberapa kendala-kendala lain yang telah saya pikirkan semula, namun 5 point di atas yang paling mengganggu pikiran saya sejak mendengar sample tersebut.
Setelah banyak berdiskusi dengan beliau dan mempertimbangkan berbagai permasalah teknis, saya pun menyanggupi untuk menerima proyek tersebut.
Maka pada bulan Maret 2008, kami pun bersepakat bekerjasama setelah penandatanganan surat perjanjian kerjasama.
B. KLASIK KERINCI MODERN H.AMRIN,Dpt PUNYO GAWE Vol. 1
Pekerjaan di awali dengan sample dan teks lagu lengkap, awalnya beliau menyerahkan 10 lagu, namun 2 lagu harus saya tolak mengingat durasi yang bisa di terima pada media tape dan cd. Setelah penentuan 8 lagu, saya mulai dengan merekam gitar terlebih dahulu tanpa vokal, tujuan utama saya saat itum saya ingin mengenali karakter permainan dan sound gitar milik beliau. Gitar saya rekam tanpa penuntun musik dan metronome, perekaman hanya menggunakan sebuah condenser mic untuk vokal. Kami juga menyediakan beberapa folk guitar, namun dari beberapa gitar yang telah kami sediakan, beliau lebih nyaman memainkan gitar milik beliau yang bermerk Hofner berumur cukup tua dan fisik gitar sudah mulai rusak, tapi sound akustik kayu masih cukup bagus. Steman gitar yang beliau pakai ada 2 yaitu : dari senar 6 berurutan:
- Nada dasar Minor, bermain pada chord Bm dengan loss senar 5 dan 6 : F# – B – D – G – B – E
- Nada dasar Mayor, bermain pada chord G dengan loss senar 5 dan 6 : G – C – D – G – B – E
Setelah mendengar rekaman kasar gitar tersebut, saya mulai membangusn pattern dasar untuk musik pengiringnya. Dari mulai membangun pattern dasar ini, kendala yang telah saya pikirkan sejak awal akhirnya terbukti, saya harus cukup jeli memilih sound berbagai ornamen musik agar tidak menutup frequensi gitar. Cukup rumit dalam memilih sound, terlebih sound untuk frequensi low/bass, mengingat, sesekali senar 5 dan 6 loss senar akan di mainkan, dan saya cukup repot memilih dan meng-eq sound low pada musik pengiring agar tidak bertabrakan dengan bunyi senar 5 dan 6 tersebut.
Akhirnya setelah sedikit bekerja keras, sound untuk tiap lagu telah saya dapatkan dan pattern dasar saya buat dan di serahkan kepada beliau untuk di evaluasi.
Setelah beliau mendengar pattern musik dasar tersebut yang telah saya mix dengan sound gitar beliau, banyak komplain dari beliau tentang konstruksi aransemen musik pengiring, tapi saya cukup memaklumi karena sudah cukup sering menghadapi ini ketika presentasi musik dasar (baca artikel “Produser/Pencipta Lagu VS Penata Musik”).
Komplain tentang arransemen saya sanggupi, karena maksud tujuan saya serahkan pattern musik dasar tersebut, lebih kepada pendapat beliau tentang sound yang telah saya susun tersebut. Dan 100% tidak ada komplain tentang frekuensi yang bertabrakan/senar yang tidak terdengar atau ornamen musik yang tertutup, yang ada hanyalah permintaan agar level/volume gitar agar sedikit di naikkan/boost. Semua saya sanggupi.
Lalu kami pun mulai merekam vokal. Pada saat merekam vokal, kendala kedua yang telah saya prediksi dari awal, terjadi. Vokalis masih awam dalam teknik vokal dan karakter vokal bervariasi. Pada saat vokal di rekam, saya sudah bisa bayangkan, pasti sound gitar akan tertutup oleh vokal. Lalu masalah berikutnya ada pada nada dasar yang bervariasi, setelah sedikit mempertimbangkan, saya lebih memprioritaskan nada dasar dari vokalis dibanding gitar, mengingat pesan lagu ada di syair bukan pada gitar, jadi kejelasan warna suara/tone color dari vokalis harus di utamakan.
Akhirnya take vocal selesai dilakukan, dan proses berikutnya saya menggarap pattern musik kembali yang di sesuaikan dengan karakter gitar dan vokal. Kembali berbagai kendala saya temui, gitar dan vokal tidak bisa ‘berbagi tempat’ karena ada pada frekuensi yang sama. Jika level gitar saya naikkan, syair lagu akan banyak tidak jelas, karena karakter vokal yang kurang mendukung. Jika vokal yang saya naiikan, gitar akan tertutup dan hanya terdengar samar. Tapi semuanya saya abaikan dulu, dan kembali saya fokuskan untuk membangun musik pengiring secara lengkap.
Setelah musik pengiring selesai, perekaman gitar kami ulangi dari awal dengan penyesuaian tempo dan nada dasar vokalis. Perekaman gitar saya ambil dengan 2 (dua) buah mic Shure SM-57 yang saya todong ke gitar, masing-masing pada posisi berbeda. Untuk mengatasi nada dasar yang harus di ikuti gitar, maka saya memasang Cappo pada gitar, yang berfungsi sebagai pembatas/sekat untuk menaikkan stem agar bisa bermain loss senar pada posisi fret manapun.
Cukup beruntung, pada album ini, karakter vokal dan steman gitar memberikan nada dasar cukup tinggi dan pada sound yang clean untuk gitar/posisi cappo diatas grid 4 pada fretboard gitar. Sehingga kendala frekuensi gitar dan vokal cukup teratas, terlebih pada lagu hits album ini “ PUNGARANG JANTUNG – Voc. FRADILAN SHANDI ”.
Setelah gitar di rekam, untuk audio tinggal memberekan mixing dan mastering vcd karaoke dan tape.
Untuk proses video, tidak jauh berbeda dengan sistem/cara kerja yang kami lakukan pada projects lain.
Pada proses mixing, ada beberapa lagu yang terpaksa sedikit saya ubah aransemen musiknya, karena ada beberapa lagu, melodi/notasi yang dimainkan pada gitar, terlalu monoton bahkan cenderung sepi, jadi terjadi banyak kekosongan. Kekosongan ini saya atasi dengan menambah beberapa melody filler melalui sound keyboard di bagian kosong.
Setelah final master audio video selesai dan telah di evaluasi bersama, serah terima dilaksanakan dan kontrak kerjasama dinyatakan selesai. Proses ini memakan waktu 30 hari kalender.
Untuk distribusi, beliau bekerjasama dengan Utama Record yang berlokasi di kabupaten Muara Bungo, propinsi Jambi.
C. PENJUALAN ALBUM KLASIK KERINCI MODERN H.AMRIN,Dpt PUNYO GAWE Vol. 1
Pada tanggal 1 Mei 2008, Album “Klasik Kerinci Modern H. Amrin, Dpt Punyo Gawe Vol. 1” di pasarkan di Kabupaten Kerinci dengan title album “ PUNGARANG JANTUNG ”. Antusiasme masyarakat Kerinci begitu luar biasa. Dengan beberapa album lain yang di launching hampir dalam waktu yang berdekatan, album “Pungarang Jantung” ini menjadi album yang paling di cari di pasaran Kabupaten Kerinci.
Mengutip sebuah liputan yang mengulas album “Klasik Kerinci Modern H. Amrin, Dpt Punyo Gawe Vol. 1” di harian Radar Kerinci bulan Mei lalu, yang berjudul “Album Lawas Sukses Kembali” menuliskan bahwa penjualan album ini untuk satu kios saja rata-rata menjual 20 – 25 pcs VCD perhari. Untuk diketahui, dalam kota Sungai Penuh saja terdapat puluhan kios kaki lima dan beberapa toko yang menjual vcd, di tambah dengan pengencer keliling dan kios-kios di kecamatan lain dalam kabupaten Kerinci. Untuk jumlah penjualan di luar kabupaten Kerinci, saya belum mendapat informasi resmi dari pihak Utama Record.
Tapi ada keyakinan bahwa album ini juga cukup sukses di luar kabupaten Kerinci, di lihat dari banyaknya sms/telpon berisi dukungan, kritik & saran dari penggemar dan pendengar album ini ke handphone bpk. H.Amrin, Dpt. Sebagian besar penggemar dan pendengar yang menghubungi beliau melalui handphone, rata-rata berdomisili di kabupaten lain dalam propinsi Jambi, Palembang, Jakarta, dan beberapa daerah lainnya termasuk Malaysia.
D. KLASIK KERINCI MODERN H. AMRIN, Dpt PUNYO GAWE Vol. 2
Satu bulan sebelum bulan Ramadhan tahun ini, saya di datangi kembali oleh bpk. H. Amrin, Dpt untuk order rekaman album KLASIK KERINCI MODERN H. AMRIN, Dpt PUNYO GAWE VOL.2
Kerjasama pun berjalan dengan baik, dan proses produksi kurang lebih hampir sama dengan proses penggarapan volume 1.
Secara jujur, saya sedikit kewalahan dengan materi lagu dan karakter vokal pada album volume 2 ini. Kewalahan saya terletak pada materi lagu yang saya rasa tidak ada yang sama atau lebih kuat dari karakter lagu PUNGARANG JANTUNG di volume 1. Di tambah dengan karakter vokal yang kurang cocok untuk materi lagu dalam album ini. Kewalahan saya berujung dengan nada dasar semua lagu yang relatif rendah dan tidak memberikan posisi aman untuk warna suara/tone color terbaik dari folk gitar.
Tetapi secara garis besar, materi lagu di album volume 2 ini, masih dalam kategori lagu rakyat atau tale lama Kerinci asli dan akan cukup menghibur bagi pendengar.
E. PENJUALAN KLASIK KERINCI MODERN H. AMRIN,DPT PUNYO GAWE VOLUME 2
Untuk distribusi, bpk H. AMRIN, DPT kembali bekerjasama dengan Utama Record – Muara Bungo. Album ini mengambil title dari salah satu judul lagu pada album ini, yaitu “HIDUP MUNUMPANG”.
Album ini resmi dipasarkan di kabupaten Kerinci pada tanggal 29 September 2008. Bagi anda yang ingin mendapatkan album Klasik Kerinci Modern H. Amrin, Dpt Punyo Gawe Volume 2 “HIDUP MUNUMPANG” bisa mendapatkannya di toko-toko/kios kaset dan vcd dalam kabupaten Kerinci, atau menghubungi H. Amrin, Dpt ( 0813 66 868777)
F. PENUTUP
Sebenarnya kendala-kendala teknis yang saya paparkan di atas akan cukup mudah di atasi, jika menggunakan alat-alat yang cukup dan sudah berstandar nasional/internasional Karena semakin detil pekerjaan, semakin kompleks alat yang dibutuhkan. (baca artikel “BUDGET = KUALITAS” ).
Awal mula saya menerima project ini, tidak lebih dari rasa penasaran saya akan tantangan album ini. Dan saya juga cukup prihatin mendengar bahwa dalam 4 tahun beliau mendapatkan berbagai kendala dan penolakan.
Di lain sisi, saya juga sangat mengagumi berbagai musik tradisional berbagai daerah di dalam maupun luar negeri. Jika Anda, khususnya seniman, budayawan dan musisi Kerinci yang punya keinginan berkarya dalam konteks musik tradisional Kerinci, kami Solfegio Studio siap untuk membantu bekerjasama dan bersama-sama berkarya dalam album anda.
Maju terus dan selalulah berkarya seniman, budayawan dan musisi Kerinci.
Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua.
TERIMA KASIH
ANTONI PASARIBU
antonipasaribu@gmail.com





RSS - Posts