SOLFEGIO

Archive for the ‘Tanggapan Email dari Saya I’ Category

TANGGAPAN EMAIL DARI SAYA (1)

Posted by Antoni Pasaribu pada 17 Oktober 2008

Baru memasuki minggu ketiga blog ini saya bangun, begitu banyak sms dan email yang masuk ke saya. Email tersebut kebanyakan motivasi, saran dan kritik membangun perihal pembenahan yang perlu saya lakukan terhadap blog ini.

Dari beberapa email ada yang menanyakan hal yang sama. Karena keterbatasan waktu, saya tidak bisa menjawab secara detil di tiap email yang masuk. Jadi saya putuskan untuk menjawab sekaligus dalam satu artikel di blog ini, agar tidak ada pertanyaan berulang kepada saya J

Karena pertanyaan yang begitu banyak saya terima, untuk tiap artikel “Tanggapan Email Dari Saya” akan saya batasi menjawab maksimal 10 pertanyaan, karena jawabannya bisa begitu panjang J

Musik dan Audio

1. Kenapa lebih fokus membahas tentang musik lagu daerah?

Saya sudah cukup lama berkecimpung dan mempelajari musik modern, seperti pop, jazz, blues, dll sampai musik elektronik (i.e. techno, house, hiphop) yang berkembang dan menjadi trend saat ini. Tapi secara jujur, setiap mempelajari berbagai jenis musik tersebut selalu saya merasakan titik jenuh, terkadang pesimis dan ga bersemangat belajar setelah mendengar permainan atau komposisi orang luar negeri yang notabene jenis musik tersebut berasal dari daerah mereka. Saya ga bersemangat karena saya pikir, apalagi yang mau dicari di jenis musik ini? Apa saya cuma mau ikut-ikutan trend dan cara bermusik mereka aja? Kapan saya bisa punya khas dalam bermusik? Itu yang ada di benak saya. Trus sedang heboh-hebohnya “keributan” tentang menolak budaya barat, eh kenapa musik barat tetap menjadi trend di kalangan masyarakat terlebih kalangan kawula muda.

Saya mulai benar-benar terpikir untuk mempelajari musik tradisional Indonesia yaitu pada saat saya di Jakarta, sekitar tahun 2005. Saat itu ada seorang teman yang menawarkan pada saya untuk membuat musik durasi 20 menit untuk event berskala lumayan besar, tapi musik tersebut harus memasukkan unsur etnik dari semua propinsi di Indonesia. Wah, sebagai orang yang merasa bisa bermain musik saya malu pada diri sendiri, karena selama ini gila-gilaan belajar musik luar negeri tapi cuma sedikit mengetahui tentang musik dalam negeri. Terpaksa tawaran itu saya tolak, karena emang ga sanggup 🙂

Sejak itu saya yang juga merasa masih muda 🙂 (saat artikel ini ditulis, saya berumur 25 tahun) mulai terpikir untuk lebih memfokuskan bermusik saya terhadap musik tradisional/daerah baik komersil maupun non komersil. Terserah musik tradisional apa aja yang penting Indonesia J berkat teman-teman yang saya kenal langsung ataupun melalui internet, saya jadi punya banyak akses untuk meminta contoh lagu-lagu daerah dari berbagai kebudayaan dan propinsi di Indonesia. Setelah banyak menerima “hadiah” dari teman-teman, saya semakin bersemangat, ternyata musik Indonesia ga kalah bagus malah bagi saya jauh lebih bagus dibanding musik luar negeri, contoh aja musik Sasando, Kolintang, Gambang Kromong, Tifa, Gamelan, Gending, dll, kalau musik Sumatera umumnya saya pernah dengar. Sayang sekali ini ga dikembangkan oleh kita orang Indonesia.

Mulailah saya memberi waktu untuk rutin mendengar musik tradisional Indonesia, ngerti atau ga, urusan belakangan, yang penting dengar dulu 🙂 dan mencari-cari buku maupun artikel yang membahas tentang musik tradisional. Saya lebih mencari artikel yang berisi tentang pola dan struktur komposisi, tangga nada, ritme, dll ketimbang artikel mengenai nilai-nilai historis ataupun sakral sebuah musik tradisional, karena artikel tentang itu yang paling saya butuhkan. Sedangkan artikel yang menyangkut sejarah sekedar menambah wawasan dan pengetahuan saya. Karena sulitnya saya mencari artikel yang saya inginkan itulah menjadi motivasi saya menentukan tema dan batasan pokok bahasan artikel di blog ini. Siapa tau ada rekan-rekan yang seperti saya yang ingin mencari artikel mengenai pola musik tradisional khususnya musik tradisi Kerinci. Dan kaitannya dengan bidang pekerjaan saya di musik komersil, maka saya juga membuat artikel tentang perkembangan musik komersil lagu daerah khususnya berbagi pengalaman-pengalaman yang saya temukan selama menggeluti bidang ini. Jadi, alasannya kurang lebih seperti ini, dan saya mengajak seluruh pembaca khususnya kaum muda, mari bersama kita pelihara dan kembangkan musik tradisi Indonesia. Dari daerah manapun anda berasal dan musik daerah manapun yang ingin anda geluti, terusin aja selama itu masih musik Indonesia. Namanya juga Bhineka Tunggal Ika, ga peduli mau berbeda gimanapun, yang penting tetap satu Indonesia 🙂 Hidup Musik Indonesia.

2. Sejak Kapan Belajar Musik Dangdut / Musik Kerinci?

He..he…he.. ini dah agak dalam, karena bisa berpengaruh dengan pekerjaan yang saya terima 🙂 tapi ga apa-apa tetap saya jawab, biar fair bagi konsumen…he..he…he..!

Umur kurang lebih 1 tahun saya sudah di boyong ke Kerinci karena tugas penempatan orang tua saya pada saat itu di Semurup, Kerinci, Jambi. Praktis dari kecil saya sudah sering mendengar musik tradisi Kerinci ataupun musik komersil lagu daerah Kerinci.

Selama pengalaman bermusik, saya tidak pernah anti dengan jenis musik apapun, semuanya saya dengar tapi cuma beberapa yang benar-benar saya dalami, dan dangdut bukan salah satunya 🙂 karena karakter saya dari kecil, ingin coba yang beda…he..he..he.. ketika di daerah Kerinci pada saat saya kecil umumnya mendengar dan bermain musik dangdut, saya lebih memilih mempelajari musik selain dangdut. Karena menurut pemikiran saya saat itu, kalau mau belajar musik dangdut pasti gampang, setidaknya mudah mencari tempat bertanya dan mendengar seperti band dangdut ataupun organ tunggal di daerah kami.

Sampailah saat saya mulai memutuskan berwirausaha membuka home studio ini, dan survey serta sedikit observasi mengenai selera musik mayoritas di daerah Kerinci yang ternyata cenderung ke musik Dangdut. Nah, mulailah saya sampai pada tahap dilema fenomena dunia komersil yang ga pake idealis:-)

Sejak saat itu, seperti ketika saya mempelajari jenis musik lain, saya selalu mendengar musik Dangdut secara rutin minimal 1 jam perhari. Yang saya dengar adalah lagu dangdut dari berbagai era. Lalu saya menghubungi kenalan-kenalan saya keturunan India yang kebetulan juga musisi untuk dikirimi MP3 contoh-contoh lagu India dan berbagai masukan yang menurut mereka paling berpengaruh ke perkembangan musik Dangdut Indonesia. Lalu saya mencari artikel dan contact tentang instrument Tabla dan banyak hal lain yang saya lakukan untuk melengkapi diri saya mengetahui dan mendalami musik dangdut.

berkat “pencarian” saya ini, saya bisa “merasakan” musik dangdut, dengan mendengar lagu dari berbagai era, saya memiliki banyak referensi dan berusaha tidak terpengaruh dengan referensi tersebut. Dan sampai saat ini, secara umum saya belum merasa terlalu kesulitan dalam menjiwai musik dangdut, justru kesulitan yang saya rasakan saat ini adalah mencari ciri khas untuk diri saya sendiri, baik dalam hal arransemen maupun sound.

3. Kenapa tidak mencipta lagu?

Pertanyaan ini banyak dilontarkan teman-teman yang telah mengenal saya, dan kapasitas serta kemampuan saya bukan dalam bidang mencipta lagu. Saya lebih dominan bercita-cita sebagai arranger, sekalipun hanya untuk kelas daerah kecil. Kepuasan bermusik saya tidak dipengaruhi oleh luas wilayah, jumlah pendengar atau jenis musik yang ngtrend/bergensi.

Saya selalu merasa kesulitan dalam mencipta lagu terlebih dalam penyusunan syair/lirik, karena saya “miskin” ilmu tata bahasa:-) tapi dalam hal “membongkar” sebuah lagu, saya paling suka. Contoh seperti lagu-lagu dalam album Uris Musik (lihat halaman galeri), hampir semua lagu dasar yang diberikan kepada saya, saya bongkar dan ubah nyaris 50% dari nada batang lagu aslinya. Atau seperti lagu Mars RSU Mayjen H.A Thalib Kerinci, saya hanya diberikan selembar kertas berisi lirik, hanya dengan membaca lirik tersebut saya sudah bisa membayangkan tangga nada yang akan saya berikan kepada lagu tersebut termasuk aransemen harmoni paduan suara dan musiknya. Soal bagus ato ga, relatif…he..he..he.., selama bisa diterima oleh klien, saya anggap relatif udah cukup bagus! dengan pengalaman-pengalaman ini saya menyadari kapasitas diri saya bukan sebagai pencipta lagu.

4. Kenapa membuka studio di Kabupaten/daerah kecil bukannya di ibukota propinsi?

Pertanyaan ini banyak saya dapatkan, dari segi prospek bisnis, memang benar, pendapatan yang saya dapatkan di kabupaten Kerinci relatif lebih kecil dibanding rekan-rekan lain yang berwirausaha di ibukota propinsi. Emang ada banyak alasan yang membuat saya mengambil keputusan ini, salah satunya: saya dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua yang juga berjiwa seni, seni untuk kepuasan batin adalah hal yang paling banyak dan saya pelajari dari orang tua saya. Dan kebetulan kepuasan batin saya saat ini ada di Kerinci…he..he..he…! pernah ada pembicaraan saya dengan beberapa orang teman musisi yang bercita-cita ingin GO INTERNATIONAL.

Tanggapan saya tentang GO International ini : “go international bisa memiliki dua arti, kita yang ikut musik internasional, atau internasional yang mau tau dan belajar tentang musik kita.” Untuk hal ini, saya lebih memilih yang kedua, saya lebih baik memainkan musik daerah Indonesia yang berbahasa Indonesia/daerah agar orang luar mau belajar tentang seni budaya kita, daripada saya harus memainkan musik internasional seperti jazz & rock agar international bisa menerima kita. Yang kedua jauh lebih membanggakan menurut pemikiran saya. Dan lagian, kalau semua mau Go Internasional, siapa yang mau jagain dan ngembangin daerah kita? Wkwkkwk…

5. Kenapa menggali musik Kerinci bukannya musik Batak, kamu kan orang Batak?

He..he.h.he..he… terima kasih buat pertanyaan ini, walaupun sedikit berbau SARA, tapi saya berpikir positif, bahwa yang menanyakan ini masih peduli dengan musik daerah.

Alasan pertama : saya dibesarkan di Kerinci, otomatis frekuensi dengar saya lebih dominan di musik Kerinci ketimbang musik Batak.

Kedua : sudah banyak musisi, etnomusikolog, budayawan yang jauh lebih pintar dan berpengalaman yang telah menggali kebudayaan dan musik Batak. Sedangkan musik Kerinci masih sedikit yang ingin menggalinya. Dan jangan persempit wawasan musik hanya karena fanatisme sebuah daerah, yang penting masih Indonesia…he..he…he….he.., Karena, musik itu universal! mau orang manapun, musik daerah manapun, selagi masih Indonesia, menurut saya, karena kita orang Indonesia, berarti kita semua sama-sama memiliki. Yang penting jangan dirusak! selagi masih menggali, memelihara dan mengembangkan, saya rasa itu masih sah aja.., anggap aja sebagai satu bentuk kontribusi dan partisipasi kita dalam memelihara musik tradisional Indonesia.

Alasan Ketiga : kaitannya dengan pekerjaan saya sebagai penata musik komersil lagu daerah Kerinci, saya merasakan relatif cukup susah untuk mendapatkan ciri khas musik Kerinci, ini salah satu faktor yang paling memotivasi saya untuk menggali musik tradisional Kerinci.

6. Bagaimana prospek musik Kerinci untuk beberapa tahun kedepan?

Untuk musik komersil yang mengadaptasi musik modern atau serapan dari musik luar, untuk daerah Kerinci akan selalu dan semakin berkembang. Karena masyarakat Kerinci adalah masyarakat yang majemuk. Berbagai suku, ras dan agama ada di kabupaten Kerinci. jadi peluang musik komersil lagu daerah yang mengadaptasi musik modern, saya prediksi akan selalu berkembang dan terus berkembang. Sedangkan untuk musik tradisional, mungkin hampir sama dengan beberapa daerah lain di Indonesia, karena perkembangan adaptasi musik modern menggunakan bahasa daerah, musik tradisional cenderung di tinggalkan, dan ironisnya, banyak yang menganggap musik tradisional itu membosankan, tidak entertainer, kuno, tidak memiliki nilai jual dan berbagai pendapat lainnya. Dan saya pribadi memaklumi hal tersebut, karena banyak daerah termasuk Kerinci yang relatif masih kurang melakukan sosialisasi dan kaderisasi pemeliharaan salah satu aset daerah ini ke masyarakat umum khususnya kepada kaum muda. Melihat hal ini, saya termotivasi dan salut kepada masyarakat Bali, karena Bali telah termasuk ikon dunia dan selalu dikunjungi banyak turis dari berbagai negara dan kebudayaan. Tapi bisa kita lihat sendiri, seni budaya mereka khususnya musik tradisional Bali, tetap terpelihara sampai saat ini. Sampai kepada generasi muda pun tetap memainkan musik tradisional Bali. Disamping itu musik komersil daerah Bali yang menyerap musik modern, tetap menggunakan pola dan alur nada khas Bali. Jadi cukup layak kita menjadikan Bali sebagai contoh baik dalam memelihara seni musik tradisional.

7. Apa gebrakan yang ingin dibuat oleh Solfegio Studio untuk musik Kerinci?

Sampai saat ini saya belum membuat sebuah gebrakan, khususnya dalam dunia komersil lagu daerah Kerinci. Sampai saat ini, karena keterbatasan dana, saya hanya masih melayani penjualan jasa, belum sampai tahap memproduseri sendiri sebuah album dan terbatas hanya mencari ciri khas sendiri, tapi tetap dalam “kurungan” keinginan para klien. Disamping keterbatasan dana, saya juga sedang mempelajari skema distribusi dan selera masyarakat pendengar musik Kerinci.

Dan telah banyak inovasi yang terpikirkan di benak saya untuk “mengembalikan” musik Kerinci ke bentuknya ataupun mengembangkan ke bentuk lain, tanpa “mengganggu” ciri khas rekan-rekan penata musik dan produser lain. Namun berbagai kendala baik waktu, finansial dan jalur distribusi masih menjadi pertimbangan saya untuk menunda mewujudkan “inovasi” idealis saya ini.

8. Penyanyi dan lagu seperti apa yang ingin digarap oleh Solfegio Studio?

Untuk penyanyi, memang ada banyak kriteria, tapi kriteria pertama : Punya ciri khas dalam warna suara. Selanjutnya saya paling tidak menyukai penyanyi yang memaksakan untuk meniru karakter vokal orang lain atau artist yang telah terkenal. Untuk teknik vokal, dalam skala lagu daerah, saya tidak bisa berharap banyak, setidaknya penyanyi yang ingin masuk rekaman khususnya dengan kami, sebelum rekaman, lepaskan “atribut” bahwa anda seorang yang berpengalaman di panggung, pernah beberapa kali rekaman, sering juara di kompetisi vokal, dan lain-lain, karena bagi saya itu ga berlaku. Seorang artist yang “polos” hanya membawa karakter vokal yang khas aja sudah sangat cukup bagi saya, karena teknik vokal bisa perlahan di ajari dan diarahkan saat rekaman.

Untuk lagu-lagu selain lagu rakyat/tradisional, lagu yang bersedia dan ingin kami garap adalah lagu original ciptaan si pencipta, bukan hasil membajak atau memotong lagu lain yang udah ada. Lagu original berarti syair dan lagu adalah karya si pencipta tersebut dan bertanggung jawab atas karyanya tersebut.

9. Kenapa tampilan web blognya sederhana?

Ini kami sengaja, alasan utama untuk kecepatan akses. Dengan tampilan yang sederhana ini, bagi pengunjung yang ingin mengakses via handphone atau pelanggan internet yang tarifnya berdasarkan bandwith, tidak akan membutuhkan size yang besar hanya karena sebuah tampilan. Saya sudah mencoba akses blog ini melalui via handphone OS Symbian browser Opera Mini 4, untuk halaman muka hanya membutuhkan 3 – 4 kb, sedangkan view 1 artikel berkisar hanya 6-15kb. Otomatis biaya yang dikeluarkan cukup murah dan akses pun cepat. Karena pertimbangan ini, kami menetapkan untuk menggunakan tampilan minimalis seperti ini.

Untuk tampilan yang lebih dinamis sedang kami persiapkan dan di rencanakan untuk web utama kami dengan hosting berbayar, dan memang fokus untuk komersil, sedangkan web blog ini, kami prioritaskan kepada artikel-artikel yang kiranya dapat bermanfaat bagi para pembaca.

10. Saya manggilnya Pak, Abang, Adik, Mas, atau apa?

Untuk hal ini saya ingin menggunakan budaya barat…he…he..he.., semua yang ingin menghubungi saya, langsung aja panggil nama saya “ANTONI” ga perlu pake embel-embel pak, abang atau apapun. Tapi kalau ingin pake budaya timur yang lebih sopan, terserah aja, kalau mau lihat dari segi umur, saya lahir 1 Agustus 1983, berarti saat artikel ini saya tulis, umur saya masih 25 tahun lebih dikit…he…he…he….

“Dimana Bumi Di Pijak, Di Sana Harus Berkarya”

Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua.
TERIMA KASIH

ANTONI PASARIBU
antonipasaribu@gmail.com

www.solfegio.wordpress.com

Iklan

Posted in solfegio, Tanggapan Email dari Saya I | Dengan kaitkata: , , , | 2 Comments »

 
%d blogger menyukai ini: